Thursday, February 9, 2012

sel - sel sistem persyarafan

Sel - sel yang terdapat dalam sistem persyarafan antara lain adalah :
  1. Neuroglia
  2. Neuron
  3. Potensial aksi
  4. Sinaps

Neurolgia

  • Jumlah sel glia sangat banyak hampir 10 kali dari neuron.
  • Dalam susunan syaraf pusat sel glia di bagi menjadi 3 jenis sel glia, yaitu : mikroglia ( sel -sel pembersih yang memasuki sistem persyarafan dari pembuluh darah ), Oligoidermoglisis ( berperan dalam pembentukan mielin ), Astrosit ( terdapat di seluruh otak dan banyak diantaranya mempunyai ujung kaki di pembuluh darah).

Neuron

Struktur dasar dan unit fungsional sistem syaraf . neuron terdiri dari : Badan sel ( soma ), Dendrit ( menerima informasi ), dan akson.

Potensial aksi

ada 2 fase yang terjadi pada potensial aksi yaitu Depolarisasi dan Respolarisasi. hal itu terjadi karena rangkaian perubahan pada permeabilitas membran yang di pengaruhi oleh : Rangsang kimia ( asam basa ACTH, norepine pria ), Rangsang listrik, Rangsang mekanik, Panas dan dingin.

Sinaps

Berhubungan satu neuron dengan neuron yang lain. tempat terjadinya penghantaran impuls.


fungsi sistem persyarafan

Didalam tubuh manusia terdapat sebuah sistem persyarafan, dan sistem persyarafan tersebut berfungsi sebagai :
  1. Menerima informasi dari dalam maupun luar melalui " Aferent sensory pathway "
  2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem syaraf dan antara sistem syaraf dan sistem syaraf pusat.
  3. mengolah informasi yang di terima baik tingkat syaraf ( refleks ) maupun otak untuk menentukan respon yang tepat dengan situasi yang dialami.
  4. menghentikan informasi secara cepat melalui eferent pathway ke organ - organ tubuh sebagai kontrol atau modifikasi tindakan.


kekurangan volume cairan ( hipovolemia )

Kekurangan volume cairan ( FVD ) kehilangan air dan elektrolit dengan proporsi yang sama. Jadi resiko elektrolit dan air sama besar. Hipovolemia berbeda dengan istilah dehidrasi, dehidrasi itu sendiri adalah hilangnya air saja namun kadar Na meningkat, jadi rasio elektrolit dan air tidak sama besar. Kekurangan volume cairan terjadi akibat hilangnya cairan tubuh yang lebih cepat atau lebih banyak dari asupanya tetapi bias uga semata – mata akibat masukan yang tidak adekuat yang terjadi cukup lama.

Penyebab hipovolemia adalah : muntah – muntah, diare, bilas lambung ( suction GI ), keringat, penurunan asupan cairan.

Faktor resiko tambahanya adalah : Diabetes insipidus, Insuisiensi adrenal, diuresis osmotic, perdarahan, koma, perpindahan cairan ke rongga ketiga atau dari vaskuler ke ruang yang lain misalnya edema pada luka baker, asites pada disfungsi hepar .

Manifestasi klinis dari Hipovolemia adalah dapat berlangsung secara cepat dan dapat ringan, sedang atau berat. Tergantung pada tingkat kehilangan cairan. Penurunan turgor kulit, oliguria, urin pekat, hipotensi postural, rekuensi jantung lemah dan cepat, vena leher rata, kenaikan suhu tubuh, penurunan tekanan vena sentral, kulit yang dingin basah karena vasokonstriksi perifer, haus, anoreksia, mual, lesu, kelemahan otot, kram.

Pemeriksaan penunjang untuk Hipovolemia adalah BUN : kreatinin = > 10 : 1, hematokrit (Ht ) meningkat, Kadar Na dan K darah dapat meningkat dan juga bias menurun ( Hipernatremia – peningkatan IWL dan Diabees insipidus, Hiponatremia – rasa haus meningkat dan pelepasan ADH, Hiperkalemia – insufisiensi adrenal, Hipokalemia – gangguan GI dan renal ), Berat jenis urin meningkat.

Untuk pengkajian keperawatan Hipovolemia adalah :

1.masukan dan pengeluaran cairan diukur dan dievaluasi minimal 8 jam sekali kadang tiap jam juga diperlukan.

2.kaji apakah ada poliuri-diare- muntah dan sebagainya, kaji urin output < 30 ml/ jam pada orang dewasa.

3.kaji TTV : nadi lemah dan cepat hipotensi postural ( penurunan tekanan sistolik > 15 mmHg ketika klien bergerak dari posisi berbaring ke posisi duduk ) penurunan suhu ( kecuali ada infeksi ).

4.Kaji turgor kulit dan lidah secara berkala.

5.Pada kulit orang yang sehat, kulit dicubit akan kembali ke posisi semula ketika dilepas. Kemampuan elastis ini di sebut turgor.

6.Tempat pengukuran turgor yang baik adalah pada bagian kulit diatas sternum, bagian dalam paha atau dahi.

7.Turgor kulit tidak valid pada lansia.

Intervensi keperawatan Hipovolemia :

1.Kaji kebutuhan cairan klien, demam – kebutuhan cairan meningkat

2.Asupan per oral di tingkatkan, jika memungkinkan klien bias minum.

3.Jika mual beri cairan sedikit namun kering, bila perlu diberi obat anti mual.

4.Jika kehilangan cairan akut atau berat , pemberian melalui intravenadibutuhkan.

5.Larutan elektrolit isotonis seperti linger laktat atau NaCl 0,9 % yang sering digunakan.

6.Jika normotensif diganti larutan hipotonis ( NaCl 0,45 % )